Pages

Wednesday, June 5, 2013

Adat Istiadat yang bertentangan dan yang mendukung Ajaran Kristen



hmmm sobat Shantycr7 perlu dibaca nih khususnya buat yang beragama nasrani tp gpp juga buat yg muslim apalagi kalo batak :)
Oce ini diah...,.,ADAT ISTIADAT YANG BERTENTANGAN DAN YANG MENDUKUNG AJARAN KRISTEN 

A.   CONTOH-CONTOH ADAT ISTIADAT YANG MENENTANG PENGAJARAN KEKRISTENAN

1.      UPACARA ADAT BATAK UNTUK KEMATIAN
Punguan marga serta hula2 cenderung mengadakan acara ini dengan alasan untuk penghormatan kepada ayah/ibu keluarga yang meninggal (mengacu pada Kitab Keluaran, apakah penghormatan ini masih valid, ketika orang meninggal, berkat2 Tuhan pun terhenti untuk orang tsb). Alasan penghormatan, seperti lebih ditujukan ke pihak2 yg melakukan penghormatan dibandingkan ke orangtua yang meninggal. Wakil keluarga harus ikut rapat untuk membahas jumlah ulos, jambar, uang balas utk ulos, dll, padahal keluarga yang ditinggalkan sedang berduka.
Disini sangat jelas upacara adat ini bertentangan dengan iman dan pengajaran kekristenan karena sudah jelas keluarga yang ditinggalkan sedang berduka namun para punguan hula-hula lebih mementingkan pembahasan masalah materi seperti pembahasan mengenai jumlah ulos, jambar, uang balas dll. Belum lagi dalam acara ini ada yang dinamakan dengan kebaktian penghiburan dari punguan dan hula-hula padahal jelas-jelas arah dan tujuan sebenarnya bukan kesitu namun lebih memfokuskan pada pembahasan hal materi.

2.      MANGONGKAL HOLI
Salah satu dari acara adat yang dilakukan dalam rangka menghormati arwah para leluhur dan masih dilakukan sampai sekarang adalah tradisi mangongkal holi. Mangongkal holi adalah upacara adat menggali tulang-tulang orangtua (leluhur) yang sudah meninggal dan memindahkannya ke tempat peristirahatan mereka yang lebih baik. Tujuan dari mangongkal holi adalah menghormati orang tua kita, dan yang disebut orang tua bukan saja bapa atau ibu kita, melainkan sampai kepada nenek moyang kita. Kuburan tanah yang sementara dibuka, sesudah lewat waktu pembusukan yang dianggap perlu, lalu mengangkat tulang-tulang dari dalamnya dan menempatkannya dalam suatu kuburan semen dengan mengadakan upacara tertentu. Pesta adat ini diiringi oleh gondang dan pemotongan hewan secara besar-besaran (banyaknya hewan yang dipotong tergantung dari yang mengadakan acara).
Perayaan itu biasanya tidak langsung di dalam suasana yang khidmat. Yang merupakan pusatnya ialah tengkorak dan tulang-tulang dari bapa-bapa suku atau bapa-bapa dari nenek moyang yang akan dikumpulkan. Tulang-tulang itu digali (mangongkal holi) lalu tulang-tulang tersebut dibersihkan. Setelah dibersihkan biasanya akan ada acara manulangi (menyuapi) holi-holi (tulang-belulang) tersebut seperti layaknya manusia biasa dengan makanan, sirih dan kadang-kadang diberi rokok, dan kemudian dimasukkan ke dalam suatu peti kecil dan kemudian nantinya dipindahkan ke dalam kuburan yang baru. Moyang, yakni ompu itu sendiri dimintakan berkatnya sebagai balas jasa atas tempat yang terhormat yang telah disediakan keturunannya baginya. Menurut budaya yang asli, permintaan berkat ini di-andung-kan (diratapkan) langsung kepada ompu di depan tengkoraknya sebelum dia dimasukkan ke kuburannya yang baru. Kemudian peti kecil itu dimakamkan di dalam kuburan semen atau di dalam tugu. Peserta-peserta dan tamu-tamu berkumpul di rumah suhut (tuan rumah) dan duduk makan serta mengakhiri perayaan itu dengan pidato-pidato resmi sambil menikmati nasi dan ternak sembelihan – ayam, babi, atau kerbau.
Untuk konteks masyarakat Batak, penggalian tulang-belulang memiliki motif yang sangat jauh berbeda dengan kisah yang ada di Kejadian 50:1-14 di mana Yakub dan pada ayat 25 Yusuf berpesan agar mayat mereka dibawa kembali ke Kanaan. Motif ini sangat jauh berbeda sehingga tidak mungkin nas tersebut dapat digunakan sebagai dasar alkitabiah untuk melegalisasi penggalian dan pemindahan tulang-belulang. Dalam hal ini jelas mangongkal holi sangat bertentangan dengan pengajaran kekristenan karena motif dan tujuan penggalian tulang-belulang menurut suku Batak pada hakekatnya adalah penghargaan, penghormatan, kultus pada roh (tondi) orang mati, dan di sana ada pengharapan bahwa roh dari orang yang meninggal itu akan meningkat, atau semakin bermutu, menjadi sahala atau sumangot (keduanya berbeda antara yang satu dengan yang lain menurut orang Batak) yang mampu memberi berkat (jasmani dan rohani) kepada orang hidup. Sedangkan kita tahu bahwa berkat yang sesungguhnya berasal dari Tuhan.

3.      PAMALI DALAM ADAT ISTIADAT SUKU TORAJA
Inilah salah satu contoh karakter dualisme dalam diri orang Toraja. Pada satu sisi, agama diakui. Namun pada sisi lain, petunjuk nenek moyang tetap menjadi pegangan. Ironisnya, masyarakat lebih takut melanggap pamali (pantangan yang diajarkan budaya) ketimbang larangan Alkitab. Mereka lebih taat kepada pemuka adat daripada pemuka agama. Alasannya, pelanggaran terhadap pamali akan langsung berhadapan dengan nasib buruk. Tetapi jika melanggar perintah Tuhan, belum tentu dihukum.

4.      PENGGUNAAN ULOS YANG SALAH DALAM UPACARA ADAT BATAK
Penggunaan ulos juga dikatakan sebagai praktek okultisme karena dulunya ulos dipercaya sebagai selembar kain yang indah Debata Mulajadi Nabolon yang membungkus jiwa (roh) manusia, sehingga mendatangkan kesejahteraan jasmani dan rohaniah. Karena hal itu maka banyak terjadi pembakaran ulos yang dilakukan oleh golongan atau gereja yang menentang adat.
Hanya Allah yang berhak mengenakan ulos/membungkus roh kita dengan darah Yesus Kristus yang telah mati di kayu salib sehingga memberikan berkat keselamatan jasmani dan rohani (Gal. 3:27). Ulos harus dipahami sebagai kekayaan budaya, alat yang dapat menghangatkan tubuh secara fisik. Tidak ada kuasa apapun di dalamnya. Dibeberapa tempat ulos masih dianggap dapat mendatangkan berkat kuasa gaib, ketika hal itu terjadi, disitulah letak adat itu yang bertentangan dengan pengajaran kekristenan.

5.      BERZIARAH KEKUBURAN DAN MEMINTA BERKAT

Banyak suku yang sampai saat ini masih melakukan ziarah kekuburan dan meminta berkat disana kepada roh yang meninggal itu. Sebenarnya kalau hanya membersihkan atau sekedar melihat kuburan itu tidak jadi masalah, namun yang menjadi masalah sesuai dengan pengajaran kekristenan adalah perihal meminta berkat dari roh yang meninggal. Tentu saja ini sangat bertolak belakang dengan pengajaran kekristenan. Bisa dilihat dalam kibat Ulangan 18:11; Luk 8:27; 16:19 19-31, dalam nats-nats itu bisa disimpulkan bahwa segala bentuk penyembahan dan meminta berkat dari arwah atau roh adalah “kekejian” bagi Tuhan.

6.      PASU-PASU RAJA
Adat batak yang satu ini merupakan suatu adat istiadat dimana ketika ada perkawinan, kedua mempelai tidak melakukan pemberkatan di gereja melainkan meminta berkat dan mempercayakannnya pada tua-tua kampung atau tua-tua setempat. Bahkan mereka lebih mempercayai dan menyerahkan segala sesuatunya pada penatua adat.
Tentu adat istiadat yang satu ini sangat bertentangan dengan iman kerohanian Kristen yang sesuangguhnya karena berkat dan kasih karunia hanya datang dari Tuhan saja.

7.      MANGANDUNGI ORANG MENINGGAL SECARA BERLEBIHAN
Dalam adat istiadat batak sering sekali jika ada kematian dalam keluarga, maka keluarga yang ditinggal akan mangandung atau menangis secara berlebihan, bahkan ada yang menyewa orang lain untuk menangisi yang meninggal.
Dalam pengajaran Kristen, bukannya tidak bisa menangisi orang yang meninggal, tapi jika cara menangisi yang berlebihan seperti itu maka itu menyalahi pengajaran kekristenan karena kesannya orang yang ditinggal itu seperti kehilangan pengharapan dari Tuhan, pada hal Tuhan mengajarkan pada kita bahwa orang yang mati akan kembali dihidupkan oleh Tuhan dan akan dibangkitkan kembali pada masanya.

B.   CONTOH-CONTOH ADAT ISTIADAT YANG MENDUKUNG PENGAJARAN KEKRISTENAN
    
          MEMASUKI RUMAH BARU

Yang pertama dilakukan memasuki rumah baru yang adalah yang memasuki secara adat.Walaupun ada yang dilakukan yang baru tidak diharuskan ,karena sejak dahulu ada adat yang dibuat Simalungun.
PelaksanaanKerja:
*Sebelum kerja dilakukan benali sesuai dengan keperluannya.
*Pada pagi hari berangkatlah pihak laki-laki dengan laki-laki dengan saudara perempuan kerumah yang baru pihak laki-laki beras ½ kaleng ,tebu ,pisang yang masak .Tulang bapak membawa beras .Mertua laki-laki membawa beras .Perempuan membawa perangkat sirih dan perangkat dapur.
*Setelah sampai rombongan didepan pintu ,orangtua dari pihak laki-laki ,pihak tulang ,pihak mertua laki-laki ,dan saudara dekat ,didepan pintu diberikan pihak laki-laki kepada pihak tulang yaitu supaya pintu dibuka berdasarkan kunci yang diberikan pihak laki-laki.
*Membuka pintu sering juga dilakukan pihak tulang “kubukalah rumah yang bertuah ini yang memegang semua pengisi ,yang pintar mengurungkan yang tidak pintar mengeluarkan” setelah itu pintu terbuka masuklah pihak perempuan yang ditentukan untuk memberkati serta pihak lai-laki ,saudara pihak laki-laki saudara perempuan masuk kerumah langsung kedapur (pihak perempuan memberkati dapur sampai kamar/didapur pihak tulang menanam padang togu pada tempat masakan).
Setelah acara didapur,serta melihat-lihat kaeadaan rumah kembalilah rombongan kepada tempat semula dan meletakkan apa yang dibawa pada tempat yang lebih tinggi serta tikar dibentangkan oleh pihak perempuan khusus tempat duduk pihak laki-laki Pihak tulang mempersilahkan pihak laki-laki duduk setelah itu diberi beras dan teruskan mertua laki-laki serta pihak laki-laki serta pihak orangtua dari pihak laki-laki.Setelah selesai diberi beras diaturlah tempat duduknya disamping pihak laki- laki adalah pihak orang tuanya disebelah kanan pihak tulang, pihak mertua laki-laki dan sebelah kiri adalah pihak perempuan.
AcaraAdat:
A.Diberikan orang tua laki-lakilah: Ayam yang diatur (supaya teratur) kehidupan diberkati Tuhan serta tobu dan pisang serta kelapa maksudnya supaya terang perasaan ,mudah pencaharian serta semakin tua semakin manis.Semakin lama semakin dik
etahuilah kehidupan dimasa mendatang.
B.Diberikan pihak laki-laki tebu, pisang kelapa kepada orang tua pihak laki-laki (yang diberikan didalam suatu piring)
C.Diberikanlah lagi kepada pihak saudara perempuan (ayam diatur).
D.Menyampaikan makanan saudara pihak perempaun (ayam diatur)
E.Apabila memotongh si4 kaki yang menjadi bahan utamanya diserahkan ajalah kepada pihak laki-laki serta dijalankanlah makanan itu kepada yang patut diberi penghormatan.
F.Makan
bersama.
G.Selesai makan berjalanlah sirih berbatu setelah selesai makan kepada saudara sebagian orang tidak berbatu.
H.Seleasai memberi nasehat atau memberi kata pemberkatan yang diketahui pihak tulang ,mertua laki-laki ,pihak saudara serta diikuti dengan memberikan ulos kesenangan hati mereka kepada pihak laki-laki.
     Dalam hal ini adalah mendukung pengajaran kekristenan karena dalam acara memasuki rumah baru ini tidak ada yang bertentangan dengan firman Tuhan dalam Alkitab malah sangat mendukung dalam hal mengharapkan berkat yang dari Tuhan agar selalu diberkati dalam rumah yang baru dan diberkati dalam rumah tangga serta kehidupan yang dijalani.
2.      Sistem kekerabatan orang Batak menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam 3 posisi yang disebut DALIHAN NA TOLU (bahasa Toba) atau TOLU SAHUNDULAN(bahasa Simalungun). Dalihan dapat diterjemahkan sebagai “tungku” dan “sahundulan” sebagai “posisi duduk”.Keduanya mengandung arti yang sama, 3 POSISI PENTING dalam kekerabatan orang Batak, yaitu:
-          HULA HULA atau TONDONG, yaitu kelompok orang orang yang posisinya “di atas”, yaitu keluarga marga pihak istri sehingga disebut SOMBA SOMBA MARHULA HULA yang berarti harus hormat kepada keluarga pihak istri agar memperoleh keselamatan dan kesejahteraan.
-          DONGAN TUBU atau SANINA, yaitu kelompok orang-orang yang posisinya “sejajar”, yaitu: teman/saudara semarga sehingga disebut MANAT MARDONGAN TUBU, artinya menjaga persaudaraan agar terhindar dari perseteruan.
-          BORU, yaitu kelompok orang orang yang posisinya “di bawah”, yaitu saudara perempuan kita dan pihak marga suaminya, keluarga perempuan pihak ayah. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari disebut ELEK MARBORU artinya agar selalu saling mengasihi supaya mendapat berkat.
Dalihan Na Tolu bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi tersebut: ada saatnya menjadi Hula hula/Tondong, ada saatnya menempati posisi Dongan Tubu/Sanina dan ada saatnya menjadi BORU. Dengan Dalihan Na Tolu, adat Batak tidak memandang posisi seseorang berdasarkan pangkat, harta atau status seseorang. Dalam sebuah acara adat, seorang Gubernur harus siap bekerja mencuci piring atau memasak untuk melayani keluarga pihak istri yang kebetulan seorang Camat. Itulah realitas kehidupan orang Batak yang sesungguhnya. Lebih tepat dikatakan bahwa Dalihan Na Tolu merupakan SISTEM DEMOKRASI Orang Batak karena sesungguhnya mengandung nilai nilai yang universal. Jadi secara keseluruhan adat istiadat orang batak ini sangat mendukung pengajaran kekristenan karena dituntut untuk dapat menghargai dan saling menghormati tanpa memandang status dan kedudukan.
3.      UPACARA PEMBERIAN MARGA BARU BAGI NON-BATAK MENJADI BATAK
Dalam hal ini biasanya ketika seorang batak yang tentunya beragama Kristen menikah dengan yang non batak sehingga dari pihak keluarga wanita/pria menginginkan supaya diberikan marga baru yang sesuai untuk pihak yang non batak, tentu sudah melalui persetujuan orangtua atau keluarga pihak non batak.
Upacara atau adat istiadat ini sangat mendukung pengajaran kekristenan karena dengan menarik yang non batak menjadi batak maka akan semakin mempererat jalinan atau hubungan kekeluargaan, dimana itu lah yang dianjurkan dalam firman Tuhan, karena lazimnya bagi orang batak, mereka akan lebih menghargai atau lebih dekat hubungannya dengan sesame batak, maka dari itu dengan diberikannya marga baru bagi yg semula bukan batak maka akan menimbulkan persamaan yang baru yang dapat menguatkan tali silaturahmi bagi masing-masing pihak.
4.      SULANG-SULANG PAHOMPU
Dalam adat istiadat batak ada kebiasaan yang biasanya dilakukan oleh nenek/kakek pada masa tuanya ketika mereka sedang sakit-sakitan atau merasa usianya sudah tidak lama lagi, dimana kebiasaan itu dilakukan pada cucu-cucunya yang dinamakan “sulang-sulang pahompu”.
Dalam ajaran kekristenan hal ini sangat mendukung, dimana nantinya dalam pelaksanaan adat ini ada permintaan berkat dari Tuhan. Tentu saja kita sebagai umat Kristen hanya bisa mengharapkan dan meminta berkat dari Allah saja. 
5.      PEMBERIAN NAMA PADA BAYI
Dalam upacara pemberian nama yang dilakukan pada bayi ada permintaan berkat dari Tuhan. Disinilah ajaran kekristenan berlaku, dimana kita sebagai orang Kristen harus berpengharapan dan hanya boleh meminta berkat dari Tuhan saja. Dalam upacara ini orang-orang yang berwenang untuk mengendalikan adat meminta berkat dari Tuhan supaya kelak nantinya bayi tersebut bisa menjadi bertumbuh menjadi anak yang baik dan taat pada orang tua khususnya takut akan Tuhan. Hal ini sangat mendukung pengajaran kekristenan.
6.      PERNIKAHAN KUDUS
Pernikahan kudus adalah salah satu upacara adat yang dilakukan oleh orang batak. Dalam pernikahan kudus ini hadir seluruh pihak-pihak yang berhubungan dengan mempelai pria dan wanita. Seluruh keluarga kedua belah pihak turut hadir untuk menyaksikan upacara pernikahan. Dalam upacara pernikahan dilakukan terlebih dahulu ditempat tinggal mempelai pria pada umumnya, namun ada juga yang melaksanakannya di tempat tinggal mempelai wanita meskipun ini jarang. Setelah selesai upacara kudus yang dilakukan di kampung/tempat tinggal mempelai, maka selanjutnya dilakukan pemberkatan oleh pendeta secara sakral dan kudus di gereja.
Dalam hal ini, adat istiadat ini sangat mendukung pengajaran kekristenan, karena pernikahan itu adalah sakral dan kudus dan hanya boleh meminta berkat dari Tuhan. Selain itu kehadiran pihak-pihak keluarga turut mendukung pengajaran kekristenan karena adalah sangat baik jika seluruh keluarga datang untuk turut mendoakan mempelai yang menikah.
7.       MEMBERI MAKAN ORANGTUA
Salah satu upacara adat yang dilakukan orang batak ialah memberikan makanan khusus pada orangtuanya. Hal ini dilakukan biasanya ketika orangtua yang bersangkutan sudah sangat tua atau lanjut usia. Dalam upacara ini anak yang bersangkutan meminta berkat dari Tuhan agar orangtuanya itu memiliki umur yang panjang dan selalu diberkati Tuhan.
Dalam hal ini tentu sangat mendukung pengajaran kekristenan karena terlihat adanya penghormatan kepada orangtua yang dilakukan anak. Adat ini menunjukkan suatu bentuk penghormatan kepada orangtua dimasa tuanya yang dilakukan seorang anak.
Halo..halo numpang promosi yah teman2 terkasih..aku pemilik blog ini lagi launching produk sepatu terbaru kami diskon 50% all items...
Kelebihan kami adalah saudara2 bisa memesan sesuai model sepatu yang sobat suka (misalnya sobat sangat suka model sepatu artis yang harganya jutaan tapi tdk ada uang untuk membelinya, nah sobat bisa pesan ke aku nanti akan kami buatkan persis seperti pesanan sobat dengan tingkat kemiripan hingga 99% :)
untuk selengkapnya boleh di lihat dihalaman sebelah yah :)
Promo Gila sepatu best quality diskon 50%
Comments
5 Comments

5 comments:

  1. Jadi ingat sama opung awak,...

    ReplyDelete
  2. josh batara sihotang10/8/15, 8:01 AM

    Bangga jadi org batak yg Takut akan TUHAN :)

    ReplyDelete
  3. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    ReplyDelete

 
-->