Pages

Sunday, May 19, 2013

Makalah Akuntansi-HARTA


haloo para sobat Shantycr7 yang baik dan cakep2,,.,hmmm ada yang mau referensi HARTA???ini aku ada makalah yang aku ambil ambil dari makalah teman-teman satu kelas, jadi ceritanya waktu mereka mau presentase ini lah yang dibagikan ke aku, lengkap loh sobat !!!
oce langsung aja yokk ke TKP.....

BAB I
PENDAHULUAN

Harta/Aset/Aktiva adalah sumber ekonomi yang diharapkan memberikan manfaat usaha di kemudian hari. Harta/Aset/Aktiva  dipahami sebagai harta total. Namun biasanya untuk keperluan analisis dirinci menjadi beberapa kategori, seperti: aset lancar, investasi jangka panjang, aset tetap, aset tidak berwujud, aset pajak tangguhan, dan aset lain-lain.
Aset merupakan elemen laporan keuangan yaitu neraca yang akan membentuk informasi berupa posisi keuangan perusahaan bila dihubungkan dengan elemen yang lain yaitu kewajiban dan ekuitas. Aset merepresentasikan potensi jasa fisis dan nonfisis yang memampukan badan usaha/perusahaan untuk menyediakan barang dan jasa.
Daftar harta/aset/aktiva  di dalam neraca disusun menurut tingkat likuiditasnya, mulai dari yang paling likuid hingga yang tidak likuid, yaitu : mulai dari aktiva lancar, aktiva tetap dan seterusnya.
Bagi manajemen, di dalam membaca neraca, nilai aset perlu dicermati karena menjadi dasar pengukuran prestasi keuangan perusahaan. Ukuran ini menjadi pembanding prestasi sesuatu perusahaan dengan prestasi perusahaan yang lain dalam hal yang sama, apakah lebih baik atau tidak, sehingga dapat menjadi dasar keputusan manajemen untuk mempertahankan atau meningkatkannya.
Salah satu ukuran yang menyangkut harta/aset/aktiva adalah angka rasio penjualan/total aset, yang dinyatakan sebagai persentase. Asumsinya, semakin besar penjualan yang diwujudkan, semakin efisien penggunaan aset seluruhnya. Angka penjualan diambil dari laporan laba-rugi, sedang angka total aset berasal dari neraca. Dalam hal ini rasio dari tahun terakhir dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Ukuran yang lain menyangkut profitabilitas, yaitu angka laba harta atau laba investasi, yang berasal dari perbandingan angka laba (dipetik dari laporan laba rugi) dan total harta atau total aset, yang nilainya sama dengan istilah total investasi (dipetik dari neraca).

BAB II
PEMBAHASAN
A.                Pengertian Harta (Aset)
Menurut FASB mendefinisi aset dalam kerangka konseptualnya sebagai berikut (SFAC No 6: 25) :
Assets are probable future economic benefits obtained or controlled by a perticular entity as a result of past transactions or events (Aset adalah manfaat ekonomik masa datang yang cukup pasti atau diperoleh atau dikuasai/dikendalikan oleh suatu entitas akibat transaksi atau kejadian masa lalu).
Menurut Stick, dkk (2009:33), “Aset merupakan kemungkinan manfaat ekonomi dimasa yang akan datang yang diperoleh atau dikendalikan oleh suatu entitas tertentu sebagai hasil dari transaksi atau kejadian masa lalu”.
Menurut IAI dalam SAK (2009:9), “Aset adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dimasa depan diharapkan akan diperoleh perusahaan”.
Berdasarkan ketiga pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa harta/aset adalah sumber daya yang diperoleh, dikuasai/dikendalikan oleh suatu entitas/perusahaan akibat dari peristiwa masa lalu yang diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi dimasa yang akan datang.
Menurut Baridwan (dalam Darma, 2011:16-17) aktiva dapat dikelompokkan sebagai berikut:
v  Harta Lancar / Aktiva Lancar / Current Assets
Harta lancar adalah harta yang berbentuk uang tunai maupun aktiva lainnya yang dapat ditukarkan dengan uang tunai dalam jangka satu tahun.
Contoh : piutang dagang, biaya atau beban dibayar di muka, surat berharga, kas, emas batangan, persediaan barang dagang, pendapatan yang akan diterima, dan lain sebagainya.


v  Harta Investasi/Aktiva Ivestasi/Investment Assets/Investasi Jangka Panjang
Harta Investasi adalah harta yang diinvestasikan pada produk-produk investasi untuk mendapatkan keuntungan.
Contoh : Reksadana, saham, obligasi, dan lain-lain.
v  Harta Tak Berwujud / Intangible Assets
Aset tak berwujud adalah harta yang tidak memiliki bentuk tetapi sah dimiliki perusahaan dan dapat menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.
Contoh : Merk dagang, hak paten, hak cipta, hak pengusahaan hutan / hph, franchise, goodwill, dan lain sebagainya.
v  Harta Tetap / Aktiva Tetap / Fixed Assets
Harta tetap adalah harta yang menunjang kegiatan operasional perusahaan yang sifatnya permanen kepemilikannya.
Contoh : Gedung, mobil, mesin, peralatan dan perlengapan kantor, dan lain-lain.
v  Harta Lainnya / Other Assets
Harta lain adalah perkiraan atau akun yang tidak dapat dikategorikan pada harta atau aset di atas baik dalam bentuk aset tetap, aset investasi, aset tak berwujud dan aset lancar.
Contoh : Mesin rusak, uang jaminan, harta yang masih dalam proses kepengurusan yang sah, dan lain-lain.

B.                 Pengakuan Harta (Aset)
Terdapat tiga karakteristik utama yang harus dipenuhi agar suatu objek atau pos dapat disebut harta/ aset, yaitu :
1.                  Manfaat ekonomik yang datang cukup pasti
Untuk dapat disebut sebagai aset, suatu objek harus mengandung manfaat ekonomik di masa datang yang cukup pasti. Uang atau kas mempunyai manfaat atau potensi jasa karena daya belinya atau daya tukarnya. Sumber selain kas mempunyai manfaat ekonomik karena dapat ditukarkan dengan kas, barang, atau jasa, karena dapat digunakan untuk memproduksi barang dan jasa, atau karena dapat digunakan untuk melunasi kewajiban.


2.                  Dikuasai atau dikendalikan entitas
Untuk dapat disebut sebagai aset, suatu objek atau pos tidak harus dimiliki oleh entitas tetapi cukup dikuasai oleh entitas. Oleh, karena itu, konsep penguasaan atau kendali lebih penting daripada konsep kepemilikan. Penguasaan disini berarti kemampuan entitas untuk mendapatkan, memelihara/menahan, menukarkan, menggunakan manfaat ekonomik dan mencegah akses pihak lain terhadap manfaat tersebut. Hal ini dilandasi oleh konsep dasar substansi mengungguli bentuk yuridis (substance over form). Pemilikan (ownership) hanya mempunyai makna yuridis atau legal.
3.                  Timbul akibat transaksi masa lalu
Kriteria ini sebenarnya menyempurnakan kriteria penguasaan dan sekaligus sebagai kriteria atau tes pertama (first-test) pengakuan objek sebagai aset. Aset harus timbul akibat dari transaksi atau kejadian masa lalu adalah kriteria untuk memenuhi definisi. Penguasaan harus didahului oleh transaksi atau kejadian ekonomik. FASB memasukkan transaksi atau kejadian sebagai kriteria aset karena transaksi atau kejadian tersebut dapat menimbulkan (menambah) atau meniadakan (mengurangi) aset. Misalnya perubahan tingkat bunga, punyusutan atau kecelakaan.
Aset diakui dalam neraca kalau besar kemungkinan bahwa manfaat ekonominya dimasa depan diperoleh perusahaan dan aset tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal. Aset tidak diakui dalam neraca kalau pengeluaran telah terjadi dan manfaat ekonominya dipandang tidak mungkin mnegalir kedalam perusahaan setelah periode akuntansi berjalan. Sebagai alternatif transaksi ini menimbulkan pengakuan beban dalam laporan laba rugi.

C.                Pengukuran Harta (Aset)
            Pengukuran dalam akuntansi adalah proses memberikan jumlah moneter kuantitatif yang berarti pada objek atau peristiwa yang berkaitan dengan suatu badan usaha dan diperoleh sedemikian rupa sehingga jumlah itu sesuai dengan agregasi (seperti total penilaian aktiva) atau disagregasi (seperti yang disyaratkan untuk situasi tertentu). Contoh objek pada definisi diatas diantaranya adalah : piutang, pabrik, dan peralatan. Sedangkan contoh untuk peristiwa adalah penjualan barang dan jasa.
            Sebelum pengukuran dapat dilakukan, harus dipilih atribut-atribut tertentu yang akan diukur. Dalam hal piutang, atribut-atribut yang dipilih mungkin mencakup jumlah nilai uang yang akan diterima dan tanggal penagihan yang diharapkan. Untuk pabrik dan peralatan, atribut yang akan diukur mungkin meliputi kapasitas fisik untuk memproduksi pengeluaran sumber daya pada saat perolehan, atas sumber yang diperlukan untuk mengganti aktiva saat ini. Pengukuran biasanya dilakukan dalam ukuran moneter. Tetapi ada data nonmoneter yang seringkali relevan untuk memprediksi dan pengambilan keputusan seperti kapasitas produksi dalam ton atau jumlah pegawai.
Kos Sebagai Pengukur dan Bahan Olah Akuntansi
Dalam arti luas kos mempunyai makna sebagai agregat harga dalam perolehan suatu aset. Penghargaan sepakatan (kos) dalam transaksi antarpihak independen menjadi dasar pengukuran karena jumlah rupiah tersebut dianggap cukup terandalkan untuk mendekati/mengaproksikan nilai sebenarnya atau nilai wajar suatu objek pada saat transaksi. Penghargaan sepakatan merupakan pengukur aset pada saat pemerolehan yang palling objektif. Kos yang didasarkan atas penghargaan sepakatan lebih terandalkan karena penyebarannya lebih terpusat atau variansi lebih kecil atau sempit daripada kos yang didasarkan atas penilaian secara subjektif atau selain penghargaan sepakatan. Dengan kata lain, kos atas dasar penghargaan sepakatan lebih akurat daripada atas dasar yang lain.
Penghargaan Sepakatan Sebagai Bukti
Tranksaksi pertukaran dapat dijadikan landasan untuk menentukan kos yang terandalkan karena penghargaan sepakatannya didasarkan atas mekanisme pasar yang bebas sehingga tia menjadi bukti validitas pengukuran kos, lebih-lebih dalam mekanisme pasar sempurna.
Pengukuran Kos
Dalam praktiknya, pemerolehan aset merupakan proses yang tidak terjadi begitu saja selesai dalam satu kegiatan tetapi terdiri atas serngkaian kegiatannya misalnya, menempatkan order, menerima barang, meneliti kecocokan, mengangkut barang, mencoba barang, menyimpan atau menempatkan barang, dan akhirnya menggunakan barang tersebut. Kos yang melekat pada suatu objek ditentukan oleh batas kegiatan pemerolehan dan jenis penghargaan.
Secara konseptual, pembentuk kos suatu aset adalah semua pengeluaran (pengorbanan sumber ekonomik) yang terjadi atau yang diperlukan akibat kegiatan pemerolehan suatu aset sampai tia ditempatkan dalam kondisi siap dipakai atau berfungsi sesuai dengan tujuan pemerolehannya.
Kos Dalam Barter
Barter atau pertukaran aset adalah pemerolehan aset (biasanya aset berwujud atau nonmoneter) dengan penghargaan berupa aset berwujud atau nonmoneter lainnya. Atas dasar penalaran, terdapat beberapa prinsip penentuan kos aset yang diterima dalam barter atau pertukaran, yaitu:
1.        pertukaran taksejenis, tanpa pembayaran tombok
2.        pertukaran taksejenis, dengan pembayaran tombok
3.        pertukaran sejenis, tanpa pembayaran tombok
4.        pertukaran sejenis, dengan pembayaran tombok
5.        pertukaran sejenis, dengan penerimaan tombok
Cara penentuan kos adalah unik untuk berbagai jenis transaksi, tidak hanya untuk jenis transaksi barter, namun juga untuik jenis-jenis transaksi seperti saham sebagai penghargaan, reorganisasi, hadiah/hibah, temuan, dan pembelian kredit.
Potongan Tunai dan Keringanan
Kos akan tercatat terlalu tinggi kalau potongan tunai dan keringanan-keringanan lain tidak dikurangkan terhadap harga kesepakatan. Potongan dan keringanan merupakan suatu hal yang sudah menjadi kebiasaan umum dalam kegiatan usaha. Dalam perusahaan yang dikelola dengan baik, melewatkan potongan merupakan suatu kesalahan yang dapat menimbulkan kerugian.


Rugi dalam Pemerolehan Aset
Sebelum pendapatan terjadi yang ditimbulkan oleh upaya yang direpresentasikan oleh biaya, kos mengalami penghimpunan, penggabungan, dan reklasifikasi. Kos yang terhimpun tersebut tetap merepresentasi aset kalau aset terbeut belum dikeluarkan sebagai biaya. Akan tetapi, karena suatu kondisi tertentu dapat terjadi bahwa suatu potensi jasa tertentu tidak lagi mempunyai kemampuan untuk menghasikan pendapatan. Dalam kondisi tersebut dapat dikatakan bahwa manfaat ekonomik telah hangus dan merupakan rugi.

D.                Penilaian Harta (Aset)
Penilaian asset dalam akuntansi adalah proses penentuan jumlah rupiah untuk menentukan makna ekonomi dari suatu asset yang akan disajikan dalam necara. Konsep penilaian berkaitan dengan masalah penentuan makna yang ingin disampaikan pada pemakai laporan terhadap asset yang bersangkutan.
Tujuan Penilaian Asset
Tujuan pengukuran/penilaian asset adalah sebagai berikut:
·           sebagai salah satu langkah dalam pengukuran laba.
·           sebagai salah satu langkah dalam proses penyajian posisi keuangan.
·           memenuhi kebutuhan informasi yang ingin dicapai dalam pelaporan keuangan
·           memenuhi kebutuhan informasi khusus yang memerlukan penilaian untuk kepentingan manajemen.

Dasar Penilaian
            Hendriksen dan Van Breda (1992) menyebutkan bahwa ada dua jenis nilai pertukaran yang dapat digunakan yaitu nilai keluaran (output value) dan nilai masukan (input value). Nilai keluaran menenjkan dana (kas) yang diperkirakan akan diterima perusahaan di masa mendatang sesuai dengan harga pertukaran output/produk yang dihasilkan perusahaan nilai keluaran didasarkan pada jumlah kas atau penghargaan lain (non kas) yang diterima suatu unit usaha bila suatu asset/potensi jasa akhirnya keluar dari unit usaha tersebut karena suatu pertukaran. Asset yang ditunjukan nilai uang/klain untuk menerima uang tersebut harus dinyatakan dalam bentuk nilai sekarang.
E.                 Penyajian Harta (Aset)
            Prinsip akuntansi berterima umum, terutama standar akuntansi menetapkan penyajian dan pengungkapan tiap pos-pos aset. Walaupun aset didefinisi secara umum sebagai manfaat ekonomik di masa datang yang dikuasai kesatuan usaha dan yang benar-benar timbul dari transaksi yang sah, tiap pos aset didefinisi lebih lanjut atau spesifik sesuai dengan sifat pos tersebut. secara umum, prinsip akuntansi berterima umum memberi pedoman penyajian dan pengungkapan aset sebagai berikut:
  1. Aset disajikan di sisi debit atau kiri dalam neraca berformat akun atau di bagian atas dalam neraca berformat laporan.
  2. Aset diklasifikasikan menjadi aset lancar dan tetap.
  3. Aset diurutkan penyajiannya atas dasar likuiditas atau kelancarannya, yang paling lancar dicantumkan pada urutan pertama.
  4. Kebijakan akuntansi yang berkaitan dengan pos-pos tertentu harus diungkapkan (misalnya metoda depresiasi aset tetap dan dasar penilaian sediaan barang).

F.                 Pengungkapan Harta (Aset)
Aktiva Tetap
Laporan keuangan harus mengungkapkan, dalam hubungan setiap jenis aktiva tetap :
  1. Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan jumlah tercatat bruto. Jika lebih dari satu dasar yang digunakan, jumlah tercatat bruto untuk dasar dalam setiap kategori harus diungkapkan;
  2. metode penyusutan yang digunakan;
  3. masa manfaat atau tarif yang digunakan;
  4. jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode; dan
  5. suatu rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode memperlihatkan :
    1. Penambahan;
    2. pelepasan;
    3. akuisisi melalui penggabungan usaha;
    4. revaluasi yang dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah,
    5. penurunan nilai tercatat,
    6. penyusutan,
    7. beda nilai tukar neto yang timbul pada penjabaran laporan keuangan suatu entitas asing,
    8. setiap pengklasifikasian kembali,
Laporan keuangan juga harus mengungkapkan:
  1. Eksistensi dan batasan atas hak milik, dan aktiva tetap yang dijaminkan untuk hutang;
  2. kebijakan akuntansi untuk biaya perbaikan yang berkaitan dengan aktiva tetap;
  3. jumlah pengeluaran pada akun aktiva tetap dalam kontruksi;
  4. jumlah komitmen untuk akuisisi aktiva tetap;

Aktiva Tidak Berwujud
Laporan keuangan harus mengungkapkan hal-hal berikut untuk setiap golongan aktiva tidak berwujud, dengan membedakan antara aktiva tidak berwujud yang dihasilkan secara intern dan aktiva tidak berwujud lainnya:

  1. Masa manfaat atau tingkat amortisasi yang digunakan;
  2. metode amortisasi yang digunakan;
  3. nilai tercatat bruto dan akumulasi amortisasi (yang digabungkan dengan akumulasi rugi penurunan nilai) pada awal dan akhir periode;
  4. unsur pada laporan keuangan yang didalamnya terdapat amortisasi aktiva tidak berwujud; dan
  5. rekonsiliasi nilai tercatat pada awal dan akhir periode dengan menunjukkan :
1.      Penambahan aktiva tidak berwujud yang terjadi, dengan mengungkapkan secara terpisah penambahan yang berasal dari pengembangan didalam perusahaan dan dari penggabungan usaha
2.      Penghentian dan pelepasan aktiva tidak berwujud
3.      Rugi penurunan nilai yang diakui pada laporan laba rugi periode berjalan sesuai dengan PSAK 48: Penurunan nilai aktiva (jika ada)
4.      Rugi penurunan nilai yang dibalik pada laporan laba rugi periode berjalan sesuai dengan PSAK 48: Penurunan nilai aktiva (jika ada)
5.      Amortisasi yang diakui selama periode berjalan
6.      Selisih kurs neto yang timbul dari penjabaran laporan keuangan suatu entitas asing
7.      Perubahan lainnya dalam nilai tercatat selama periode berjalan.









BAB III
PENUTUP
Harta/aset adalah sumber daya yang diperoleh, dikuasai/dikendalikan oleh suatu entitas/perusahaan akibat dari peristiwa masa lalu yang diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi dimasa yang akan datang.
Aktiva dapat dikelompokkan menjadi harta lancar (current assets), harta investasi (investment assets), harta tak berwujud (intangible assets), harta tetap (fixed assets), harta lainnya (other assets).
Suatu objek atau pos agar dapat disebut harta/aset harus memenuhi tiga karakteristik, yaitu manfaat ekonomik yang datang cukup pasti, dikuasai atau dikendalikan entitas, dan timbul akibat transaksi masa lalu.
Prinsip akuntansi berterima umum, terutama standar akuntansi menetapkan penyajian dan pengungkapan tiap pos-pos aset. Walaupun aset didefinisi secara umum sebagai manfaat ekonomik di masa datang yang dikuasai kesatuan usaha dan yang benar-benar timbul dari transaksi yang sah, tiap pos aset didefinisi lebih lanjut atau spesifik sesuai dengan sifat pos tersebut. secara umum, prinsip akuntansi berterima umum memberi pedoman penyajian dan pengungkapan aset sebagai berikut:
  1. Aset disajikan di sisi debit atau kiri dalam neraca berformat akun atau di bagian atas dalam neraca berformat laporan.
  2. Aset diklasifikasikan menjadi aset lancar dan tetap.
  3. Aset diurutkan penyajiannya atas dasar likuiditas atau kelancarannya, yang paling lancar dicantumkan pada urutan pertama.
  4. Kebijakan akuntansi yang berkaitan dengan pos-pos tertentu harus diungkapkan (misalnya metoda depresiasi aset tetap dan dasar penilaian sediaan barang).



DAFTAR PUSTAKA

Darma, Jufri. 2011. Pengantar Akuntansi. Medan: UNIMED.
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). 2002. Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Jakarta: Salemba Empat.
Soemarso. 2003. Akuntansi Suatu Pengantar. Buku 2. Jakarta: Salemba Empat.
Warren, dkk. 2006. Pengantar Akuntansi. Buku 1. Jakarta: Salemba Empat.


Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 
-->