Pages

Saturday, August 3, 2013

Pengertian dan Hakikat Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research)


Pengertian dan Hakikat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) - Halo para sobat Shantycr7 yang baik hatinya :).,,semoga dalam keadaan sehat selalu. Seperti yang uda pernah aku posting sebelumnya mengenai Penelitian Tindakan Kelas (PTK), kali ini aku mau coba ulas lebih dalam mengenai pengertian atau hakikat dari PTK itu sendiri. Ya aku memang bukan seorang peneliti yang uda bertahun-tahun terjun didunia penelitian, tapi aku ingin mencoba mengulas mengenai peneltian yang berbeda dari semua jenis peneltian ini. Kebetulan aku baru saja menyelesaikan skripsiku dimana jenis peneltian yang kugunakan dalam peneltianku adalah PTK. Ada banyak dan masih banyak yang salah kaprah dan belum mengerti mengenai PTK ini padahal sebagian dari mereka mengambil keputusan untuk melakukannya. Contohnya ada pernah teman ku yang saat kutanyakan pengertian PTK dia hanya bilang Penelitian Tindakan Kelas hehehhe (ya iya lah itukan singkatannya). Ya ya ya aku bukannya bongkar2 aib atau sok pintar atau menghina or whatever lah sobat, tapi alangkah lebih baik jika kita tau ruang lingkup jenis peneltian yang kita gunakan itu, ya setidaknya basicnya harus tau lah, aku pun saat ini masih sedang dalam proses pembelajaran. Aku bukan ahli pendidikan masih mau dapat gelar sarjana bulan 10 or 11 nanti kalo Tuhan mengizinkan. Tapi disini aku hanya ingin mengungkapkan apa yang kutau aja yang kudapat sumbernya dari artikel dan pemikiran orang-orang yang kuanalisa satu dengan yang lainnya, termasuk juga pendapat para ahli dibidang PTK ini, jadi mohon koreksinya jika ada yang ingin mengoreksi sesuai apa yang sobat tau, let’s learning together ;)

Kebanyakan universitas yang notabene berorientasi pada ilmu keguruan atau yang berbau pendidikan di Indonesia pastinya dalam menyusun skripsi/thesis menggunakan PTK bukan? Ya karena umumnya PTK itu dirancang untuk ilmu pendidikan/pengajaran. Ini hanya sekedar tulisan aja sobat bukan bermaksud untuk sok pintar atau menggurui apalagi tulisanku ini ga mengikuti standar baku penulisan sesuai EYD hehhe (maklum ga ada niat jadi penulis so i just write down just the way I do)

Well, PTK,,what is PTK?
PTK adalah suatu rancangan penelitian yang dirancang khusus untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dikelas yang biasanya dilakukan oleh guru. Guru berperan ganda disini yaitu sebagai peneliti dan juga sebagai guru. Kenapa dikatakan sebagai peneliti? Ya sobat sebagai peneliti karena nantinya guru yang melakukan PTK ini akan menghasilkan suatu inovasi pembelajaran baru dalam bentuk karya ilmiah yang berguna untuk memperbaiki mutu atau kualitas pembelajaran yang akan dipublikasikan atau bisa membantu guru lain dalam hal yang sama atau akan dijadikan pedoman untuk perbaikan mutu pendidikan. Dikatakan sebagai guru ya karena dia harus menyelesaikan pembelajaran dalam kelas (dia ngajar gitu sobat).

Seperti kata kunci diatas PTK itu dirancang khusus untuk “memecahkan masalah” dalam proses pembelajaran. Maka beberapa orang bertanya? “Nah san, kalo ga ada masalah berarti ga perlu donk melakukan PTK?” oh no, then u wrong ! seorang “guru profesional” pasti akan selalu bisa mencari celah disetiap proses pembelajaran yang dilakukannya (kecuali buat mahasiswa tingkat akhir yang sedang melakukan skripsi cukup masuk akal karena mereka belum lama dilapangan, tapi itupun sebenarnya masih bisa diselidiki).
Makanya sobat, kalau ada guru yang bilang “ah, saya sama sekali tidak menemukan masalah dalam kelas yang saya ajar, mereka semua pintar-pintar dan bisa sangat baik mengikuti pembelajaran yang saya berikan”. Heloo !!!! who are u and with whom or with what u compare it?? Jika anda seorang guru atau calon guru yang berpikiran atau bergumam begitu maka bisa kupastikan anda “bukan guru profesional”. Seorang guru profesional itu akan selalu mencoba untuk meningkatkan, meningkatkan dan terus meningkatkan kualitas pembelajaran dalam kelasnya, sesempurna apapun dia merasa telah sukses dalam PBL itu. Nothing’s perfect (kecuali dia membandingkan kualitas pembelajarannya dengan sekolah atau institusi lain yang lebih rendah, ya iyalah lebih bagus dia), sedangkan guru di harvard medical school aja belum puas dengan pembelajaran yang dilakukannya dan mereka terus berusaha memperbaiki kualitas PBL tempat mereka belajar.

Berbicara tentang PTK nih sobat atau CAR (Classroom Action Research) belakangan ini, penelitian ini dinegara-negara maju seperti Amerika, Inggris, Australia dan Canada uda berkembang dengan pesat. Para ahli penelitian di Negara-negara itu menaruh perhatian yang sangat besar terhadap penelitian tindakan kelas. Yah seperti kita tau sobat education is very important di negara-negara maju sana, karena dalam dunia pendidikan inilah karakter seseorang dibentuk sedemikian rupa. Faktor penyebabnya lainnya menurut Muhammad Asrori (2007) adalah karena  jenis penelitian ini  mampu menawarkan peningkatan profesional guru dalam proses dan hasil pembelajaran yang terjadi pada siswa. Seorang ahli penelitian Mc. Niff dalam M. Asrori (2007) mengatakan dengan tegas bahwa penelitian tindakan kelas merupakan bentuk penelitian yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan dan perbaikan pembelajaran.

Berdasarkan penjelasan diatas sobat, berarti muncul pertanyaan, PTK itu harus dilakukan ditiap sekolah donk San??? Yups, exactly ! PTK itu seharusnya dilakukan oleh guru-guru atau tenaga kependidikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dalam kelas. Nah, pertanyaanku, apakah kalian/Bapak/Ibu pernah melihat itu terjadi, atau jika anda seorang guru, apakah hal itu pernah Bapak/Ibu lakukan?? Tentu saja jawaban yang kita harapkan adalah “Ya” but pada kenyataannya, hal itu sangat amat jarang dilakukan. Aku sendiri sudah hampir 16 tahun bergelut dalam dunia pendidikan belum pernah menemukan seorang guru yang mencoba untuk melakukan PTK. Yah setelah kuselidiki alasannya memang cukup masuk akal, masalah “dana”. “Emangnya itu ga makan dana, gaji aja pas-pasan boro-boro buang-buang waktu buat begituan” celoteh seorang guru muda padaku ketika kutanya dan berbincang mengenai hal ini. Well, itulah kelemahan dinegara kita ini, dana, sarana dan prasarana belum cukup memadai beda dengan diluar sana makanya penelitian disana berkembang pesat dan banyak menghasilkan jurnal-jurnal yang bermanfaat. (aku pribadi ga menyalahkan sih, namun miris melihatnya). Mudah-mudahan nanti aku menjadi seorang tenaga pendidik yang profesional bisa berguna untuk negara tercinta ini,,,hehe,, amin. Lebih miris lagi sobat ketika kutanyakan hal ini pada seorang guru SD disalah satu kecamatan di daerahku, beliau menyatakan ga mengerti sama sekali dengan PTK (OMG). Padahal beliau mungkin uda berumur 50-an.

Back to the main topic, kita menilik dulu pengertian PTK menurut para pakar PTK.
1.  Menurut pakar PTK Indo yang bukunya uda bertebaran dimana-mana hehhe siapa lagi yang paling terkenal kalo bukan Arikunto, ada tiga kata yang membentuk pengertian PTK, yaitu penelitian, tindakan, dan kelas. Penelitian adalah kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal, serta menarik minat dan penting bagi peneliti. Tindakan adalah kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Sedangkan kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari seorang guru. Dalam hal ini kelas bukan wujud ruangan tetapi diartikan sebagai sekelompok siswa yang sedang belajar.

2. Hopkins (1993) : PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif yang dilakukan oleh pelaku tindakan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakannya dalam melaksanakan tugas dan memperdalam pemahaman terhadap kondisi dalam praktik pembelajaran.

3. Kemmis (1998): Action research as a form of self-reflective inquiry undertaken by participants in a social (including educational) situation in order to improve the rationality and justice of (a) their on social or educational practices, (b) their understanding of these practices, and (c) the situations in which practices are carried out.

4. Tim PGSM (1999) : PTK sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki kondisi di mana praktik pembelajaran  tersebut dilakukan.

Jadi singkatnya sobat, PTK itu merupakan penelitian yang bersifat reparative. Artinya, penelitian yang dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran agar siswa bisa mencapai hasil yang maksimal.
Oya perlu dipertegas dalam penelitian ini adalah makna “Kelas” itu sendiri. Dalam bahasa sehari-hari kelas sering diartikan sebagai ruangan tempat siswa belajar dan guru mengajar. Pemaknaan kelas seperti ini sebenarnya salah karena terlalu membatasi proses pembelajaran dalam ruang tertentu saja. Dalam pandangan teori pembelajaran kelas adalah sebagai kelompok peserta didik yang sedang belajar, bukan hanya ruang kelas aja.  Dengan pemaknaan seperti itu siswa belajar tidak hanya terbatas pada ruang kelas aja, tapi juga termasuk saat mengadakan praktik di laboratorium, membaca buku di perpustakaan, melakukan praktikum di bengkel kerja, atau berkarya wisata ke tempat-tempat peninggalan sejarah. Oleh karena itu Suharsimi (2007:3), mengatakan bahwa penelitian tindakan kelas dapat dilakukan di laboratorium, di lapangan, di perpustakaan, bengkel kerja atau tempat kunjungan studi; yang penting di tempat itu ada sejumlah siswa yang sedang belajar hal yang sama dari guru atau fasilitator yang sama.

Sekarang mari kita lihat permusan masalah PTK itu sendiri (M.Adnan Latief, 2009)
Karena tujuan PTK meliputi dua hal (a) penyelesaian masalah pembelajaran di kelas dan (2) strategi pembelajaran yang akan dikembangkan sebagai karya ilmiah inofatif untuk disebarluaskan kepada khalayak guru, rumusan masalah penelitian tindakan kelas harus mengakomodasi ke dua aspek tersebut.
Beberapa ahli menyatakan bahwa rumusan masalah PTK harus menonjolkan (topicalization) aspek penyelesaian masalahnya, sementara yang lain harus menonjolkan aspek pengembangan strateginya.  Kelompok pertama yang lebih mengedepankan pemecahan masalah pembelajaran dalam rumusan masalah penelitiannya tidak melihat PTK sebagai penelitian yang mengembangkan sebuah strategi pembelajaran, sehingga tidak setuju mengedepankan pengembangan strategi pembelajaran. Bagi kelompok ini yang utama adalah menyelesaikan masalah. Kelemahan pemahaman ini adalah kemungkinan diabaikannya produk penelitian yang berupa karya ilmiah inofatif strategi pembelajaran yang bisa disebarluaskan ke khalayak guru bidang studi yang sama.
Sementara kelompok yang mengedepankan pengembangan strategi pembelajaran inofatif beranggapan bahwa PTK dilatar belakangi oleh masalah pembelajaran yang ingin dipecahkan atau oleh tujuan untuk meningkatkan kualitas praktek pembelajaran dikelasnya. Dengan kata lain, penyelesaian masalah atau peningkatan kualitas pembelajaran ditempatkan sebagai dasar/alasan untuk melakukan PTK yang akan menghasilkan sebuah strategi pembelajaran inofatif. Karena ukuran (criteria of success) kualitas strategi pembelajaran yang dikembangkan (dengan tahapan dirumuskan, dicobakan, dievaluasi, kemudian direvisi untuk dicoba lagi pada siklus berikutnya) adalah penyelesaian masalah atau peningkatan kualitas pembelajaran yang telah ditargetkan, maka kelompok ini melihat bahwa yang diutamakan dalam PTK adalah produk strategi pembelajaran inofatifnya dengan tanpa mengabaikan pemecahan masalah atau peningkatan kualitas pembelajarannya.

Trus gimana dengan Perumusan Tujuan PTK?
Sebagaimana perumusan masalah PTK, perumusan tujuan PTK yang benar tentunya juga harus menagandung dua unsur tersebut, yaitu masalah yang akan dipecahkan dan strategi yang akan dikembangkan untuk memecahkan masalah tersebut. Apapaun rumusannya asal isinya meliputi dua unsur tersebut bisa dianggap benar, atau apapun rumusan tujuannya, bila tidak lengkap berisi dua unsur tersebut, rumusan tujuan PTK tersebut salah.

Well, mari kita memasuki tahap atau Proses PTK itu sendiri.,,.berikut ulasannya (M.Adnan Latief, 2009)
Proses PTK dimulai dengan identifikasi masalah pembelajaran yang ditemui di kelas oleh guru yang akan melakukan PTK. Tidak ada guru yang tidak memiliki masalah pembelajaran di kelasnya. Yang dimaksud masalah pembelajaran.adalah situasi pembelajaran dan atau hasil pembelajaran yang masih bisa ditingkatkan. Guru professional selalu mencari cara untuk melaksanakan praktek pembelajaran yang lebih baik dari yang sudah diusahakan. Sebaliknya guru yang tidak profesional merasa tidak perlu lagi mengupayakan peningkatan kualitas pembelajarannya karena dia merasa masih banyak praktek pembelajaran oleh guru lain yang belum sebaik yang dia laksanakan. Guru yang tidak professional semacam ini tidak pernah merasa ada masalah dalam praktek pembelajaran yang dia laksanakan.  Sebaliknya guru yang  professional selalu melihat banyak masalah yang bisa diselesaikan untuk meningkatkan kualitas praktek pembalajaran. Tentunya tidak semua masalah akan diselesaikan sekaligus, beberapa masalah saja yang dipilih sebagai prioritas untuk diselesaikan lebih dulu. Masalah inilah yang diangkat sebagai dasar melaksanakan PTK. 

Tahap berikutnya adalah mencari alternatif strategi pembelajaran yang paling cocok untuk mengatasi masalah yang telah dipilih melalui kajian sumber pustaka atau diskusi dengan sejawat.  Peneliti harus bisa menjelaskan bahwa strategi yang dipilih bisa menyelesaikan masalah yang akan dipecahkan.  Ukuran terselesaikannya masalah melalui strategi yang dipilih itu nantinya akan digunakan sebagai criteria of success, yang menentukan apakah strategi tersebut masih harus dimodifikasi lagi atau dianggap sudah baik.  Strategi tersebut kemudian harus dirumuskan dalam skenario pembelajaran yang berisi langkah-langkah pembelajaran, dilengkapi dengan bahan ajar dan media pembelajaran yang relevan. Penyiapan strategi ini disebut dengan tahap perencanaan (tahap pertama).

Tahap kedua adalah mengimplemantasikan skenario pembelajaran yang telah disiapkan. Sebelum melaksanakan pembelajaran, peneliti harus berlatih menguasai skenario pembelajaran yang telah disiapkan sehingga pada saat implementasi, kegiatan pembelajaran sudah bisa diamati untuk melihat tingkat keberhasilannya. Apabila ternyata dalam pelaksanaan pembelajaran, skenario pembelajaran yang telah disiapkan tidak diikuti dengan baik, maka pembelajaran tersebut belum bisa diamati untuk dievaluasi tingkat keberhasilanya.

Tahap ketiga adalah pengamatan. Pada tahap ini kegiatan pembelajaran seperti yang telah direncanakan sebelumnya diamati untuk dilihat tingkat keberhasilannya. Tujuan pengamatan adalah untuk mengumpulkan data yang menjadi indikator dampak dari implementasi strategi yang telah direncanakan, untuk menentukan seberapa jauh strategi yang diimplementasikan telah mampu menyelesaikan masalah seperti yang telah ditentukan dalam criteria of success.  Data yang dikumpulkan pada tahap ini bukan yang terkait dengan indikator kesesuaian antara skenario pembelajaran dengan pelaksanaan pembelajaran, karena kesesuaian ini sudah harus dijamin tidak berbeda. Sekali lagi kalau masih ada perbedaan, maka pelaksanaan pembelajaran belum bisa diamati, karena pengamatan hanya untuk melihat dampak dari strategi pembelajaran yang telah sesuai dengan skenarionya. Checklist untuk kegiatan guru dan siswa, seperti yang banyak dilakukan oleh mahasiswa yang sedang melakukan PTK untuk kepentingan tesisnya, tidak dipakai untuk mengamati keberhasilan strategi pembelajaran, tetapi dipakai pada saat latihan sebelum memulai implementasi yang sesungguhnya.

Tahap keempat adalah refleksi. Pada tahap ini, data yang telah terkumpul pada tahap pengamatan dianalisis, untuk disimpulkan, kemudian dibandingkan dengan criteria of success. Apabila hasil analisis menunjukkan bahwa target criteria of success telah tercapai, maka strategi tersebut telah terbukti mampu menyelesaikan masalah yang sedang dipecahkan.  Penelitian dilanjutkan dengan melaporkan hasil penelitian yang berupa tesis atau artikel ilmiah dan menuliskan secara lebih detail (sebagai panduan) bagi orang lain bagaimana mengimplementasikan strategi tersebut di tempat lain yang memiliki masalah yang sama.  Tetapi apabila target belum tercapai, peneliti harus mempelajari kembali strategi tersebut, untuk menentukan bagian mana dari strategi tersebut yang harus dimodifikasi, untuk diimplementasikan pada siklus berikutnya.

Nah sobat Shantycr7, pertanyaan yang sering timbul dalam PTK ini adalah, “Apa PTK itu memang harus dilaksanakan 2 siklus, karena kebanyakan memang karya ilmiah PTK itu dilaksanakan dalam 2 siklus?” jawabannya “Of course NOT”. Uda tau donk 4 tahap dalam siklus PTK yang Planning (perencanaan) sampai Reflecting (refleksi)??? Kalo belum liat dipostinganku sebelah. Nah, PTK itu ga musti dilaksanakan 2 siklus, bisa 1-4 siklus, itu tergantung dari ketercapaian “kriteria sukses yang digunakan oleh sipeneliti atau dengan kata lain tergantung dari indikator kesuksesan penelitian yang dilakukan. Misalnya nih ya, dalam skripsiku, kriteria kesuksesan penelitian siklus 1 ku itu adalah tercapai nilai belajar siswa sesuai KKM secara individu an keseluruhan serta aktivitas belajar diatas 70% (aku memakai dua variabel bebas ini). Nah kalaulah penelitian siklus 1 ku hasil belajar dan aktivitas siswa sudah sesuai dengan “kriteria sukses” tadi, yo wes the study should be ended.

Nah kalo ternyata, gagal-gagal terus acem? Ya lanjutin terus (biasanya sampai 4 siklus) dan kalo uda coba dan ternyata belum tercapai juga ada yang salah tuh sama model mungkin atau lesson plannya, itu makanya perlu dikaji dan dikaji lagi terus.
Oya ada lagi dalam PTK ini pertanyaan sering muncul mengenai rancangan kualitatif dan kuantitatif. Bagaimana ini?

Well, penentuan rancangan penelitian kuantitatif atau kualitatif tergantung pada jenis data yang menggambarkan variabel yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitiannya. Kalo data yang menjadi indikator variabelnya bisa digambarkan/dihitung dengan angka dan oleh karena itu untuk analisisnya bisa digunakan formula statistik, maka penelitian tersebut menggunakan rancangan kuantitatif. Sebaliknya bila data yang menggambarkan variabelnya tidak bisa digambarkan dengan angka, dan oleh karena itu untuk analisisnya tidak bisa digunakan formula statistik, maka penelitian tersebut menggunakan rancangan kualitatif. 

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, data dalam PTK digunakan sebagai indikator pencapaian criteria of success. Criteria of success untuk PTK ada yang melibatkan variabel yang bisa digambarkan dengan angka (seperti prestasi hasil belajar yang bisa digambarkan dengan skor yang berupa angka) dan ada pula yang melibatkan variabel yang tidak bisa digambarkan dengan angka tetapi dengan deskripsi (seperti suasana kelas, kerjasama antar peserta didik, kemandirian belajar peserta didik).
Kalau satu PTK melibatkan beberapa variabel (ada yang indikatornya berupa angka dan ada juga yang indikatornya berupa deskripsi) maka PTK tersebut menggunakan dua rancangan sekaligus, yaitu rancangan kuantitatif (untuk mengumpulkan dan menganalisis data yang berupa angka) dan rancangan kualitatif (untuk mengumpulkan dan menganalisis data yang digambarkan dengan deskripsi). Jadi PTK bisa dimasukkan kedalam rancangan kuantitatif sekaligus kualitatif, atau sebaliknya PTK tidak bisa dimasukkan ke dalam rancangan kuantitatif (karena melibatkan data yang tidak bisa dianalisis dengan statistik), atau tidak bisa dimasukkan ke dalam rancangan kualitatif (karena melibatkan data yang analisisnya harus menggunakan formula statistk).  So, jangan diambil pusing apakah akan memasukkan PTK ke dalam rancangan kuantitatif atau rancangan kualitatif, bilang aja PTK memiliki ciri khas yang berbeda dari jenis penelitian lainnya, yaitu menggunakan rancangan penelitian sesuai dengan keperluannya.

Demikian sobat yang dapat kuungkapkan sesuai dengan yang saya tau, i don’t mean to judge, jadi kalo ada tambahan atau sanggahan mari kita diskusikan :).,.,
Thx


Artikel Terkait:

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 
-->